Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL)

Rated 5 out of 5

Wildlife Mitigation and Monitoring Unit (WMU)

Program Mitigasi Konflik Manusia-Gajah dan Manusia-Harimau Sumatera merupakan inisiatif Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) yang bertujuan mendukung upaya konservasi satwa liar di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatera Utara. Program ini mengintegrasikan pendekatan mitigasi konflik berbasis komunitas, penguatan sistem monitoring berbasis data, edukasi konservasi, patroli habitat, serta kolaborasi multipihak.Melalui berbagai intervensi strategis, program ini berfokus pada pengurangan konflik manusia-satwa liar, perlindungan populasi gajah dan harimau Sumatera, serta peningkatan harmonisasi antara manusia dan lingkungan.

Tujuan Program

  • Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi konflik manusia-gajah dan manusia-harimau melalui pendekatan berbasis komunitas.
  • Memperkuat sistem monitoring populasi dan habitat gajah dan harimau secara terstandarisasi.
  • Mengurangi aktivitas ilegal, seperti pemasangan jerat dan peracunan, melalui patroli kolaboratif dan respons cepat.
  • Membangun mekanisme tanggap konflik berbasis standar operasional prosedur (SOP) di desa-desa rawan konflik.
  • Memperkuat koordinasi multipihak untuk mendukung upaya konservasi berkelanjutan di tingkat lokal dan kawasan.

 

Hasil (2022 – sekarang)

Mitigasi Konflik Manusia-Gajah

  • Pembentukan tim mitigasi konflik yang melaksanakan patroli dan pembersihan jerat di area seluas 113.959 hektar.
  • Melakukan sosialisasi mitigasi konflik di desa-desa prioritas.
  • Melaksanakan pelatihan mitigasi konflik yang diikuti 15 peserta di setiap desa sasaran.
  • Mendistribusikan 2.000 bibit tanaman tumpangsari adaptif konflik untuk mendukung pola tanam ramah gajah.
  • Melaksanakan 4 kali pertemuan koordinasi multipihak setiap tahun.
  • Bekerjasama dengan pihak-pihak berwenang seperti instansi pemerintah, mitra NGO lainnya, stakeholder, khususnya BBTNGL dan BBKSDA Sumatera Utara dalam rangka penanganan terhadap laporan konflik manusia-gajah bersama masyarakat. 
  • Pengembangan database konflik berdasarkan hasil survey dan monitoring lapangan. 
  • Menggunakan aplikasi SMART untuk pencatatan dan pemantauan konflik di lapangan.
  • Pengembangan dan penerapan SOP mitigasi konflik manusia-gajah di 4 desa (Mekar Makmur, Bukit Mas, Halaban, dan Batu Jongjong).

 

Mitigasi Konflik Manusia-Harimau 

  • Studi persepsi masyarakat tentang konflik manusia-harimau serta pemetaan kerawanan konflik.
  • Pembentukan tim mitigasi konflik yang melaksanakan patroli habitat harimau di kawasan seluas 88.861 hektar.
  • Melakukan sosialisasi mitigasi konflik di desa-desa prioritas.
  • Membangun 21 kandang anti serangan harimau atau Tiger Proof Enclosure (TPE). 
  • Bekerjasama dengan pihak-pihak berwenang seperti instansi pemerintah, mitra NGO lainnya, stakeholder, khususnya BBTNGL dan BBKSDA Sumatera Utara dalam rangka penanganan terhadap laporan konflik manusia-harimau bersama masyarakat. 
  • Terus berupaya untuk menurunkan kasus konflik manusia-harimau sebesar 30% sejak tahun 2022 hingga sekarang. 

Melalui keterlibatan aktif masyarakat, penguatan sistem monitoring, serta kolaborasi erat dengan para pemangku kepentingan, Program Mitigasi Konflik Manusia-Gajah dan Manusia-Harimau Sumatera berkontribusi dalam membangun fondasi konservasi jangka panjang bagi kelestarian gajah, harimau, dan habitatnya di bentang alam Leuser