Desa Lau Damak, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Di dusun Tanjung Naman, dua peternak lokal, Bapak Junaidi dan Bapak Adi, berjuang mempertahankan usaha ternak sapi mereka di tengah tekanan yang semakin berat. Perluasan perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan padang rumput alami, sumber utama pakan ternak, menyusut drastis. Kini, mencari rumput untuk pakan menjadi perjuangan harian.
Kondisi ini mencerminkan realitas yang dihadapi banyak peternak kecil di Sumatera Utara. Ketergantungan pada ekosistem alam yang terus berubah membuat penghidupan mereka makin rentan. Namun, di tengah tantangan ini, muncul secercah harapan.
Untuk mengatasi krisis pakan, Pak Junaidi dan Pak Adi bergabung dalam program budidaya rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott), jenis rumput unggul yang cepat tumbuh, bernutrisi tinggi, dan cocok untuk pakan ternak sapi. Program ini diinisiasi oleh Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL), yang memberikan dukungan berupa pelatihan teknis, bibit, dan pendampingan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan lahan pinjaman dari pemilik kebun sawit yang belum ditanami secara penuh, keduanya mulai menanam rumput Odot di area yang tersedia selama 2 hingga 3 tahun ke depan. Meskipun skala masih terbatas, inisiatif ini memberi mereka kesempatan untuk bereksperimen, belajar, dan melihat masa depan yang lebih pasti.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ungkap Pak Junaidi.
“Tapi dengan bantuan lebih lanjut dari YSHL dan para donatur, kami bisa mengembangkan kegiatan ini lebih besar dan menjamin masa depan ternak kami.”
Pada Desember 2024, YSHL juga memfasilitasi kelompok peternak ini dengan satu unit mesin cacah rumput. Mesin ini sangat membantu dalam proses penyediaan pakan, karena memungkinkan rumput Odot dipotong halus sehingga lebih mudah dikonsumsi dan dicerna oleh ternak. Fasilitasi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengelolaan pakan oleh peternak kecil.
Kisah ini bukan hanya tentang pakan ternak. Ini adalah cermin nyata dari dampak perubahan penggunaan lahan terhadap penghidupan tradisional masyarakat desa. Ketika padang penggembalaan berganti menjadi monokultur, peternak kecil berada di garis depan risiko.
Namun melalui kerja sama, inovasi lokal, dan dukungan yang tepat, transisi ini bisa dihadapi. Budidaya rumput Odot adalah salah satu contoh solusi berbasis komunitas yang berdampak langsung, baik untuk peternak maupun untuk ketahanan pangan desa.
YSHL percaya bahwa dengan dukungan yang konsisten, peternak seperti Pak Junaidi dan Pak Adi bisa menjadi pionir dalam pertanian-peternakan berkelanjutan. Kami mengajak Anda untuk turut serta mendukung penyediaan lahan penggembalaan yang permanen, menyumbang alat tanam dan sarana irigasi sederhana dan memberikan pelatihan dan pendampingan bagi peternak kecil lainnya.
Setiap langkah kecil bisa menciptakan perubahan besar. Mari kita bantu mereka mempertahankan mata pencaharian sambil menjaga keberlanjutan bentang alam kita.
Juli Yanti
Manajer Program CECP
Yayasan Sumatera Hijau Lestari
