HORAS HUB – Smallholder Regenerative Agriculture and Sustainable Palm Oil Hub

Rated 5 out of 5

Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL)

HORAS HUB adalah program strategis yang dikembangkan oleh SNV indonesia Program untuk mempercepat transformasi sektor kelapa sawit rakyat di Sumatera Utara menuju praktik pertanian regeneratif dan rantai pasok yang berkelanjutan. Melalui kemitraan dengan SNV dan dukungan sektor swasta, melalui proyek ini secara khusus Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) membina petani sawit mandiri agar mampu menerapkan prinsip Better Management Practices (BMP), mengelola kelembagaan petani secara profesional, dan memenuhi standar sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Proyek ini hadir sebagai respons terhadap urgensi penguatan kapasitas petani di tengah tantangan keberlanjutan, regulasi NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), dan tuntutan pasar global yang semakin sadar lingkungan dan sosial.Dengan pendekatan berbasis komunitas, HORAS HUB tidak hanya mengedepankan produktivitas, tetapi juga mengintegrasikan konservasi, penguatan kelembagaan, pemberdayaan perempuan, dan keterlacakan rantai pasok secara menyeluruh.

Tujuan Program:

  • Meningkatkan kapasitas 2.415 petani sawit mandiri melalui pelatihan BMP berbasis Regenerative Agriculture.
  • Membentuk dan memperkuat kelembagaan petani (kelompok tani, koperasi, dan ICS) melalui pendekatan Institutional and Business Development (IBD).
  • Mendampingi proses sertifikasi RSPO bagi seluruh petani peserta program agar terintegrasi dalam rantai pasok berkelanjutan.
  • Membangun demoplot dan sistem pertanian organik berbasis lokal yang menjadi pusat pembelajaran dan replikasi di wilayah lain.
  • Mendorong kolaborasi multipihak antara pemerintah, koperasi, sektor swasta, dan masyarakat dalam pengelolaan komoditas sawit yang ramah lingkungan dan inklusif.

 

 

Capaian Utama Program (Per Maret 2025):

  • 2.415 petani sawit mandiri telah dilatih dan didampingi secara intensif untuk menerapkan BMP, IBD, dan prinsip RSPO​.
  • Seluruh peserta program telah menjalani audit internal RSPO dan siap menuju sertifikasi final.
  • 14.560 patok batas lahan telah dipasang, mencakup 3.637 persil dan lebih dari 2.200 hektare lahan​.
  • 33 SOP koperasi dan 8 bagan alur operasional telah disusun dan disosialisasikan kepada kelompok​.
  • 3.637 papan identifikasi kebun petani telah terpasang untuk mendukung transparansi lahan dan traceability​.
  • 26 kandang burung hantu dan 32 plang konservasi telah dibangun sebagai bagian dari strategi pengendalian hama alami dan edukasi lingkungan​.
  • Audit RSPO tahap TC-B telah dilaksanakan pada Desember 2024 oleh tim auditor SGS sebagai persiapan akhir menuju sertifikasi​.
  • Terbentuknya 7 demoplot dan nursery sebagai pusat praktik pertanian regeneratif, dengan sistem pengelolaan nutrisi dan pembibitan yang terstandar​.
  • Pelaksanaan supply chain mapping di tiga kabupaten (Serdang Bedagai, Deli Serdang, Simalungun) melibatkan total lebih dari 1.700 petani pada fase kedua​.
  • Kegiatan pelatihan IBD tambahan telah menjangkau 137 petani di 12 desa dengan fokus pada tata kelola koperasi, pencatatan keuangan, dan kepemimpinan​.

Nilai Tambah Program

  • Mendorong akses pasar premium: Sertifikasi RSPO membuka peluang bagi petani untuk menjual TBS ke pasar global dengan harga lebih tinggi.
  • Transformasi kelembagaan petani: Dengan pembentukan koperasi dan ICS yang kuat, petani memiliki daya tawar dan kontrol lebih besar dalam rantai pasok.
  • Penguatan keberlanjutan rantai pasok: Program ini mendukung komitmen NDPE dan praktik transparansi berbasis traceability yang kini menjadi prasyarat banyak buyer global.
  • Pemberdayaan berbasis inklusi: Program juga melibatkan pelatihan gender, kepemimpinan, dan literasi keuangan untuk kelompok perempuan petani.
  • Replikasi dan dampak jangka panjang: Demoplot dan modul pelatihan dirancang agar dapat dengan mudah direplikasi di desa-desa lain sebagai basis ekspansi program.

Program HORAS HUB bukan hanya tentang sertifikasi atau pelatihan semata. Ini adalah inisiatif transformasional yang menjembatani antara kebutuhan petani lokal dan standar keberlanjutan global. Melalui kemitraan strategis dan pendekatan berbasis komunitas, program ini membuktikan bahwa petani kecil dapat menjadi pelaku utama dalam menciptakan sistem pertanian yang adil, lestari, dan produktif.