Belajar Cinta Alam Lewat Cara yang Menyenangkan

Pendidikan lingkungan hidup memegang peranan penting dalam membentuk kesadaran dan perilaku ramah lingkungan sejak usia dini. Sayangnya, pendekatan yang terlalu teoritis dan terbatas di dalam ruang kelas sering kali membuat materi lingkungan terasa membosankan dan jauh dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Melihat tantangan ini, Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) hadir dengan pendekatan yang segar dan inovatif melalui program kunjungan ke sekolah dan pendampingan rumah belajar konservasi. YSHL telah melakukan kunjungan edukatif ke 6 sekolah dan mendampingi 4 rumah belajar konservasi di wilayah yang menjadi fokus kerja yayasan. Dalam setiap kunjungan dan pendampingan, YSHL selalu berusaha untuk menerapkan metode bermain sambil belajar, yaitu pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan aplikatif, tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tapi juga melibatkan kegiatan langsung di alam. Metode bermain sambil belajar bukan sekadar strategi untuk menghibur anak-anak. Pendekatan ini dirancang secara sadar untuk menciptakan suasana belajar yang menarik, tidak membosankan, dan sesuai dengan dunia anak. Beberapa alasan mengapa metode ini menjadi pilihan YSHL antara lain: Selain sekolah formal, YSHL juga berkomitmen untuk memperkuat pendidikan lingkungan hidup di tingkat komunitas melalui 4 rumah belajar konservasi. Rumah belajar ini menjadi pusat aktivitas alternatif bagi anak-anak dan remaja di desa sekitar kawasan konservasi. Mereka belajar membuat kompos, mengenal burung endemik, menanam pohon, bahkan membuat kerajinan dari bahan daur ulang, semuanya dikemas dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan dan kontekstual. Kehadiran rumah belajar konservasi membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus mahal atau bergantung pada sistem formal. Justru, dengan dukungan masyarakat dan fasilitator yang kreatif, nilai-nilai konservasi bisa ditanamkan dari lingkungan yang paling dekat dengan anak-anak. Dengan pendekatan bermain sambil belajar, YSHL tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan rasa cinta, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap alam. Melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan pengalaman belajar yang menyenangkan, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi generasi penjaga alam yang sadar dan aktif melestarikan bumi. Pendidikan lingkungan hidup yang hidup, itulah yang sedang dibangun oleh YSHL. Bukan sekadar pelajaran, tapi pengalaman yang membekas seumur hidup.

Mendorong Pemberdayaan Perempuan di Tiga Desa melalui Pemanfaatan Pekarangan

Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus memberdayakan perempuan di pedesaan, Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) menjalankan program pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran organik di tiga desa di Kabupaten Langkat: Desa Lau Damak, Desa Batu Jongjong, dan Desa Ujung Bandar. Program ini telah memberikan pendampingan intensif kepada 110 ibu rumah tangga yang tersebar di ketiga desa tersebut. Para peserta didorong untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber pangan sehat dan berkelanjutan. Sayuran yang ditanam tidak hanya bermanfaat untuk konsumsi keluarga sehari-hari, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tambahan penghasilan. Salah satu kisah sukses dari program ini datang dari Ibu Sunarseh, warga Desa Batu Jongjong, yang telah bergabung dalam program SHL sejak empat tahun lalu. Selama mengikuti program, ia telah berhasil menanam berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, gambas, timun, daun sop, kangkung, hingga bunga kol. Dengan menanam sendiri sayuran kebutuhan dapur, Ibu Sunarseh merasakan langsung pengurangan pengeluaran harian karena tidak lagi perlu membeli sayuran dari pasar. Tak hanya itu, sebagian hasil panennya juga dijual ke warung-warung sekitar rumah, seperti kacang panjang seharga Rp10.000,-/kg dan timun Rp6.000,-/kg. Pendapatan dari penjualan sayuran ini kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan dapur lainnya, seperti ikan dan beras, yang secara nyata meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Tentu saja, kegiatan ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu masalah yang paling sering dihadapi adalah serangan hama dan penyakit tanaman, seperti bercak hitam pada kacang panjang atau cabe yang keriting. Masalah ini menjadi hambatan bagi ibu-ibu dalam menjaga produktivitas kebun pekarangannya. Sebagai respon terhadap tantangan ini, SHL secara aktif memberikan pelatihan dan edukasi mengenai pembuatan pupuk organik sederhana, pestisida nabati, serta cara-cara alami lainnya untuk mengelola pertanian pekarangan yang ramah lingkungan. SHL juga mendistribusikan jaring tanaman, polibag, dan benih sayuran kepada peserta baru agar mereka dapat memulai dengan dukungan yang cukup. Program ini merupakan bagian dari komitmen SHL dalam mendukung pertanian berkelanjutan, kemandirian pangan, dan pemberdayaan perempuan di desa. Melalui pendekatan yang sederhana namun berdampak besar ini, ibu-ibu rumah tangga didorong untuk menjadi pelopor perubahan di lingkungannya, tidak hanya sebagai penghasil pangan keluarga, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi rumah tangga yang mandiri. SHL percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Dengan mengelola pekarangan rumah secara produktif dan berkelanjutan, perempuan-perempuan di Desa Lau Damak, Batu Jongjong, dan Ujung Bandar kini tumbuh sebagai agen perubahan yang menumbuhkan kehidupan yang lebih hijau, sehat, dan mandiri. Juli YantiManajer Program CECPYayasan Sumatera Hijau Lestari

Belajar Cinta Alam Lewat Cara yang Menyenangkan

Pendidikan lingkungan hidup memegang peranan penting dalam membentuk kesadaran dan perilaku ramah lingkungan sejak usia dini. Sayangnya, pendekatan yang terlalu teoritis dan terbatas di dalam ruang kelas sering kali membuat materi lingkungan terasa membosankan dan jauh dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Melihat tantangan ini, Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) hadir dengan pendekatan yang segar dan inovatif melalui program kunjungan ke sekolah dan pendampingan rumah belajar konservasi. YSHL telah melakukan kunjungan edukatif ke 6 sekolah dan mendampingi 4 rumah belajar konservasi di wilayah yang menjadi fokus kerja yayasan. Dalam setiap kunjungan dan pendampingan, YSHL selalu berusaha untuk menerapkan metode bermain sambil belajar, yaitu pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan aplikatif, tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tapi juga melibatkan kegiatan langsung di alam. Metode bermain sambil belajar bukan sekadar strategi untuk menghibur anak-anak. Pendekatan ini dirancang secara sadar untuk menciptakan suasana belajar yang menarik, tidak membosankan, dan sesuai dengan dunia anak. Beberapa alasan mengapa metode ini menjadi pilihan YSHL antara lain: Aktivitas yang dilakukan secara aktif dan menyenangkan terbukti lebih mudah diingat. Anak-anak belajar mengenal ekosistem, flora dan fauna lokal, serta pentingnya menjaga lingkungan melalui permainan edukatif, simulasi ekosistem, dan eksplorasi lapangan. Anak-anak secara alami memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ketika diberi kebebasan mengeksplorasi hutan kecil, sungai, atau kebun sekolah, mereka belajar sambil bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri, cara belajar yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mendengar penjelasan. Melibatkan anak langsung di lingkungan hidup menumbuhkan keterikatan emosional dengan alam. Mereka tidak hanya belajar bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, tapi mereka bisa merasakan dampaknya langsung melalui simulasi dan pengamatan nyata. Banyak permainan yang dirancang secara berkelompok, sehingga anak-anak belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan saling menghargai saat menyelesaikan tantangan bertema lingkungan. Selain sekolah formal, YSHL juga berkomitmen untuk memperkuat pendidikan lingkungan hidup di tingkat komunitas melalui 4 rumah belajar konservasi. Rumah belajar ini menjadi pusat aktivitas alternatif bagi anak-anak dan remaja di desa sekitar kawasan konservasi. Mereka belajar membuat kompos, mengenal burung endemik, menanam pohon, bahkan membuat kerajinan dari bahan daur ulang, semuanya dikemas dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan dan kontekstual. Kehadiran rumah belajar konservasi membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus mahal atau bergantung pada sistem formal. Justru, dengan dukungan masyarakat dan fasilitator yang kreatif, nilai-nilai konservasi bisa ditanamkan dari lingkungan yang paling dekat dengan anak-anak. Dengan pendekatan bermain sambil belajar, YSHL tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan rasa cinta, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap alam. Melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan pengalaman belajar yang menyenangkan, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi generasi penjaga alam yang sadar dan aktif melestarikan bumi. Pendidikan lingkungan hidup yang hidup, itulah yang sedang dibangun oleh YSHL. Bukan sekadar pelajaran, tapi pengalaman yang membekas seumur hidup.